Wednesday, April 1, 2009

Seorang Apatis pun Ingin Berbicara..

Seorang apatis pun ingin berbicara ..
Apakah gw seorang apatis? Terhadap politik mungkin jawabannya YA sedikit .. hehe
Entah kenapa gw sangat tidak menyukai politik. It’s such a damn thing in this world. Gw gagsuka dengan aplikasi dari sistem politik yang sarat dengan perebutan kekuasaan, manipulasi, Korupsi, Kolusi, Nepotisme, sabotase, boikot, dan sejenisnya yang gag kurang hebohnya terutama di negara kita ini.
Nope, gw gagbilang bahwa politik gag dibutuhkan. Politik is needed. Politik merupakan salah satu bagian dari sistem yang membentuk konstruksi negara kita ini. Tapi terkadang pada prakteknya di lapangan kok justru menjadi sangat bertolak belakang dengan fungsi politik itu sendiri. Di mata gw, politik itu bener2 wilayah abu-abu. Kita gagbisa menjudge sesuatu itu bener2 salah atau bener2 benar. Permainan yang licin dan manuver-manuver yang dilakukan para pemain politik sering membuat gw ‘gemez’ bangeettt … rasanya kalo bisa ketemu orang-orang jahat itu pengen gw elus-elus kepalanya terus gw kocok2 sampe pusiinnggg sampee gw puaasss . hahahahaa. Belum lagi ditambah dengan hukum yang bisa diotak-atik. Jadi, apakah politik bisa dipercaya? Buat gw sampai saat ini jawabannya jelas enggag.
Akhir-akhir ini lagi santer di berbagai media mengenai bencana Situ Gintung. Pas banget di saat gw mulai menjadwalkan membeli Koran setiap hari, terutama setelah gw memutuskan untuk masuk ke jurnal cetak ;p. Dari berbagai informasi yang gw dapet, ternyata bantuan untuk para korban bencana sangat mudah dan cepat sekali datang bahkan sehari sesudah kejadian pun sudah banyak sekali barang-barang sumbangan menumpuk. Well, apakah ini karena waktunya berdekatan dengan pemilu sehingga kondisi ini digunakan oleh oknum dari partai-partai untuk mencuri-curi kampanye? Karena jelas sekali banyak truk-truk berderet yang mengangkut bahan makanan, pakaian, dan sumbangan bagi para korban bencana, bergambarkan lambang-lambang partai tertentu.
Ketika ditanya, “Apakah Bapak-Ibu sekalian sedang melakukan kampanye di sini?” Jawaban mereka, “Oh tidak kami hanya membantu para korban.” Jawab mereka sambil tersenyum. Tetapi latar belakang tempat posko-posko bantuan tersebut terdapat tempelan gambar-gambar surat suara dengan tanda contreng pada salah satu lambang partai. Haha lucu bukan?
Coba kita bandingkan deh sama bencana-bencana yang sebelumnya pernah terjadi. Misalnya saat terjadi bencana lumpur lapindo. Apakah bantuan dari pemerintah dan partai politik sebegitu “cekatannya”? Apakah ada partai tertentu yang dengan penuh kesadaran atas dasar melayani kebutuhan masyarakat melakukan hal seperti apa yang mereka lakukan pada bencana situ gintung ini? Ironis memang. Sebegitu ‘gombalnya’ para pemain politik yang mengumbar-umbar janji mereka tetapi jarang terealisasikan –kecuali jika ada maunya-.
Yang tak kalah lebih lucunya lagi adalah fenomena caleg yang sekarang berlomba-lomba merekrut ‘banyak’ artis populer. Bukannya gw mau mendiskreditkan kemampuan dan intelegensia para artis ya, wong kalo emang pintar dan mampu gw akan tetap mendukung kok. Tapi ini? Bahkan fungsi badan legislatif pun banyak di antara mereka yang tidak tahu. Bisa jadi DPR nanti dijadikan taman kanak-kanak bagi para caleg-caleg yang masih ‘hijau’ untuk belajar dari dasar sekali tentang politik itu sendiri. Yang benar saja? DPR bukanlah arena untuk belajar, DPR itu adalah lembaga tempat mereka seharusnya mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik yang telah mereka miliki dan kuasai selama ini dari hasil belajar, yang kemudian didekasikan demi kebaikan bangsa dan negara. Bayangkan bila di dalam rapat DPR justru malah terbentuk ‘kelas politik’ untuk mengurus dan mengajari mereka-mereka yang tidak menguasai bidang politik. Yah kapan mau ngurusin negaranya dong kalo gitu? Kalau memang masih belum mampu, masih belum memilki ilmu yang cukup, belajarlah dulu. Perdalam ilmu tentang politik itu sendiri lebih baik lagi, barulah maju. Pemerintahan kan bukan ajang coba-coba!
Selain itu yang masih jadi pertanyaan gw hingga saat ini adalah apa saja sih sebenarnya syarat-syarat dan ketentuan untuk mengajukan diri sebagai caleg? Karena gw melihat tampaknya begitu banyak caleg-caleg yang tidak qualified dan kompeten untuk maju sebagai caleg. Bahkan sering gw dapati di beberapa poster-poster caleg, kebanyakan tidak menyandang gelar apapun. Simpang-siur dari berbagai bisik-bisik warga bahkan seorang pengamen dan preman pun ada yang ikut mendaftar menjadi caleg. Apakah ini benar? Lalu di mana peran partai politik sebagai filter bagi kadernya sendiri? Bahkan menjaga kualitas anggota partainya saja tampaknya masih cukup sulit.
Gw tahu betul di balik semua fenomena-fenomena ini ada maksud tersendiri dari setiap partai. Pasti tersimpan suatu rancangan dan strategi untuk memenangkan pemilu. Yah, itulah politik kan? Tapi apakah kita harus menggadaikan negara dengan permainan seperti ini? Kalau sampai pada akhirnya banyak dari mereka yang tidak kompeten menduduki sebagian besar kursi pemerintahan, lalu apa jadinya sistem pemerintahan kita?
Lucu memang kalau kita mengamati berbagai fenomena politik di negara kita ini. Belum lagi koar-koar dari orang-orang yang mencalonkan diri sebagai presiden. Kadang malah jadi suka ketawa-ketiwi sendiri. Bahkan terkadang terkesan seprti bermuka dua, menolak terhadap bantuan BLT, tapi tadi kok di tv gw liat iklan partainya tentang bantuan BLT yaa? kadang jadi suka ketawa sendiri jadinya hehe

Dari sekian banyak hal itulah yang menyebabkan gw cenderung apatis terhadap politik. Gw gagsuka politik karena kelicinannya. Bahkan gw sempet kebingungan untuk menyontreng atau tidak. Siapa caleg yang bakal gw contreng? Banyak banget, sampe pusing lihatnya. Tapi tiba-tiba gw sedikit tergugah hatinya saat membaca TEMPO beberapa hari lalu mengenai golput. Dan di situ tertulis sebuah kalimat, “lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengumpat pada kegelapan.”
Ahh yaa.. bener juga sihh .. gw cuma ngomel-ngomel aja kaya nenek-nenek tapi gag melakukan apapun untuk memperbaiki itu. Menyontreng kelihatannya memang sederhana dan cenderung sepele, tetapi setidaknya itu merupakan salah satu bentuk termudah dalam partisipasi kita terhadap kemajuan bangsa ini. Hal-hal kecil seperti itu yang terkadang luput dari perhatian anak muda –termasuk gw hehe-. Kalau memang tidak tahu partai mana yang benar-benar bagus, kenapa tidak kita cari tahu? Setidaknya kita bisa memilih partai yang paling tidak buruk di antara yang buruk. Jika semua orang melakukan hak pilih mereka dengan benar dan dengan pengetahuan yang benar pula, maka bukan berarti tidak mungkin akan muncul lilin-lilin baru yang bersama-sama kemudian menerangi kegelapan.
Gila gila gila. Seorang gw bahkan berbicara dengan sangat inteleknya tentang politik. POLITIK ma men !! hahahahahaa :DD
Bukannya mau soktau sihh, tapi gw kann cuma mau memberikan sebuah sudut pandang lain. Karena gw masih peduli terhadap bangsa ini. Gw peduli dengan kelangsungan negara ini. Kalau menyontreng bisa membantu dalam memperbaiki sistem politik yang sudah bobrok ini, tentunya akan gw lakukan dengan senang hati. Even I do not interest in politics, I do care my country still. Hidup Indonesia ! yeaahh ….

*for ur information: gw sudah memiliki kepastian partai dan capres mana yang bakal gw pilih lohh haha .. gudluck with urs ;p